"Saya Harap Elon Musk Mengerti Itu": Walikota Sadiq Khan Keberatan Akun Twitter Donald Trump Mau Dipulihkan

12 Mei 2022, 21:45 WIB
Kolase Sadiq Khan, Elon Musk, dan Donald Trump /Abdurrauf Said/PosJakut

POSJAKUT - Senin, 25 April 2022, Twitter dikabarkan sedang bersiap untuk diakuisisi oleh CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk seharga $44 miliar USD, menurut laporan Reuters.

Bahkan sebelum dibeli, Elon telah mengumumkan rencananya yang kontroversial untuk memulihkan akun Mantan Presiden AS Donald Trump yang ditangguhkan secara permanen pada Januari 2021 lalu oleh Twitter.

Milyader yang aktif nge-tweet itu juga mengatakan rencana pengembalian akun Trump sebagai bagian dari wacananya untuk memperkecil frekuensi penangguhan permanen (permanent suspension) di Twitter dan menegakkan "kebebasan berpendapat."

Merespon pada hal ini, Walikota London Sadiq Khan mendesak Elon Musk untuk mempertimbangkan apakah akan membiarkannya kembali di Twitter. 

Baca Juga: Larang Ekspor Minyak Kelapa Sawit di Tengah Lonjakan Harga Pangan, Indonesia Tuai Protes Internasional

Sadiq mengatakan bahwa periode Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat menyebabkan peningkatan pelecehan rasial.

Sarannya tersebut ia sampaikan kepada Elon dalam pidatonya di Universitas Stanford mengenai misi perdagangannya ke AS.

"Mari kita tunggu dan lihat apakah Donald Trump telah belajar dari kesalahannya," kata Sadiq kepada mahasiswa Stanford. “Jika Donald Trump akan menggunakan Twitter secara bertanggung jawab, saya pikir itu baik-baik saja.”

"(Namun) Jika dia melanggar aturan, harus ada konsekuensinya dan kita tidak bisa menerima situasi di mana orang berpikir media sosial adalah tempat orang berperilaku tidak bertanggung jawab, di mana Anda melihat peningkatan bukan hanya rasisme, seksisme, dan kebencian terhadap wanita, tetapi juga perpecahan."

Sadiq kemudian menambahkan, "Saya harap Elon Musk, yang sekarang bertanggung jawab atas Twitter, mengerti itu."

Menurut Walikota London itu, penangguhan akun Twitter Trump untuk sementara maupun permanen berpengaruh dalam penurunan tajam angka penyalahgunaan semacam itu.

"Selama empat tahun dia menjadi presiden, itu membuat saya harus menerima perlindungan polisi dan banyak pelecehan rasial," kata Sadiq dalam komentarnya yang disiarkan oleh BBC.

Baca Juga: Tiga Roket Ditemukan Jatuh di Pantai Timur Korea, Korsel dan Jepang: Korut Lakukan Uji Rudal Balistik Lagi

Sadiq Khan dan Donald Trump memang sempat membuat drama panas di media sosial mikroblogging tersebut.

 

Drama tersebut dimulai ketika Trump mengkritik dengan pedas tanggapan Sadiq pada 2016 atas serangan teror Jembatan London. Tahun 2019 menjadi semakin panas setelah mantan presiden itu kembali dan menyebut walikota berdarah Pakistan itu sebagai "pecundang dingin" yang gagal mengelola tingkat kejahatan di ibu kota.***

Editor: Abdurrauf Said

Sumber: Reuters

Tags

Terkini

Terpopuler