Tanggapan Masyarakat Jepang Terhadap Aksi Penyerangan "Joker" di Kereta Tokyo Bulan Lalu

3 Desember 2021, 17:37 WIB
Reaksi Warga Jepang Tentang Pria Berkostum 'Joker' di Kereta Tokyo /Abdurrauf Said/Kolase Youtube Asian Boss

PosJakut - Bulan November lalu sebuah aksi kejahatan terjadi di kereta jalur Keio, Tokyo. Seorang laki-laki berumur 24 tahun bernama Kyotta Hatori mengenakan kostum menyerupai Joker melakukan penikaman dan membakar bensin di gerbong kereta melukai sekurang-kurangnya 17 penumpang.

Menurut penyataan aparat kepolisian setempat, Kyotta baru saja resign dari pekerjaannya dan memiliki masalah sosial sehingga memutuskan untuk melakukan penyerangan agar mendapat hukuman mati.

Aneh tapi nyata, motif penyerangan ini mengundang sejumlah respons masyarakat Jepang bahkan dunia.

Dalam video berdurasi 16 menit 39 detik yang diunggah di kanal YouTube Asian Boss, beberapa warga Jepang diwawancarai mengenai tanggapan mereka tentang penyerangan 'Joker' di kereta Tokyo.

 Baca Juga: Festival #IniJakarta, Tampilkan Wadah dan Ragam Kolaborasi Warga Untuk Bangun Kota

Jepang yang merupakan salah satu negara teraman di dunia tentu terkejut dengan peristiwa kejahatan semacam ini, terlebih kasus serupa pernah terjadi sebelumnya dua bulan terakhir.

Salah satu lelaki tua menjelaskan bahwa masalah utamanay terletak pada sustem edukasi di Jepang yang kurang mengedepankan moralitas dan penilaian guru yang memprioritaskan hasil ketimbang proses siswa.

Responden lain mengungkapkan kurangnya tindakan preventif dalam mencegah kriminalitas di Jepang, di mana biasanya pemerintah akan bertindak setelah aksi kejahatan sudah terjadi.

Baca Juga: DKI Salurkan Kredit Modal Rp4 Triliun Melalui Mekanisme Pasar untuk Pelaku UMKM di Jakarta

Masih terkait tindakan preventif, menurut salah satu responden pendidikan sekolah dasar dan menengah memiliki tanggung jawab dalam hal ini.

Bullying di sekolah hanya diajarkan dengan seruan saja tanpa adanya langkah lebih lanjut. Sekolah di Jepang masih sulit membedakan mana yang disebut bullying dan bukan, beberapa tindak perundungan ringan bahkan bagi sebagian guru dianggap tidak termasuk bullying.

Pada detik ke 11:16 seorang laki-laki bertopi hitam menerangkan kegelisahannya terhadap budaya masyarakat Jepang yang sangat rendah hati bahkan cenderung melukai diri sendiri.

Menurutnya masyarakat Jepang masih sangat tertutup dan tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan. Hal ini buruk bagi kesehatan mental.

Baca Juga: Rekor Baru! Lebih dari 2 Juta Warga Cina Mengikuti Ujian PNS Demi Mendapatkan Mangkuk Nasi Besi

Dalam wawancara tersebut hampir semua responden setuju bahwa penyebab utama perilaku buruk seperti aksi penyerangan Kyotta merupakan akibat dari kondisi mental yang tidak sehat.

Menurut sebagian responden, langkah yang dapat pihak berwenang ambil untuk menghukum Kyotta mesti berorientasi pada kesehatan mental si pelaku. Karena pada dasarnya menghukum tanpa merehabilitasi psikis pelaku setelahnya hanyalah sia-sia sebab tidak akan membina perilaku pelaku tersebut setelah melewati masa percobaanya dan berkemungkinan mengulangi perbuatan itu lagi.

"Tidak ada orang yang lahir dengan hasrat membunuh. Dia (Kyotta) berumur 24 tahun dan selama 24 tahun dia hidup, sesuatu terjadi dengan keluarganya atau temannya yang menjadikannya siapa dia sekarang." Kata laki-laki tersebut dalam wawancaranya.

Tutupnya, "Jadi kesalahan ini bukan semata-mata kesalahannya". 

Baca Juga: Kisah Mengungkap Misteri Pendakian Everest Pertama Dalam Adaptasi Manga Netflix 'The Summit of the Gods'

Di akhir video pewawancara bertanya tentang reaksi internasional atas kejadian ini apakah akan merusak reputasi Jepang sebagai negara aman.

Para responden dengan narasi berbeda setuju bahwa kejadian ini hanyalah satu contoh dari sekian banyak yang terjadi di Jepang, dan tentu hal ini tidak bisa dijadikan gambaran umum tentang Jepang.

Pada dasarnya Jepang adalah tempat yang aman, namun sebahagian kecil tindak kejahatan tidak dapat dihindari akan terjadi di kemudian hari. Salah satu responden berpesan bahwa apa yang dikabarkan media tentang Jepang tidak dapat mewakili keseluruhan Jepang.

"Jika Jepang saat ini membuat orang asing meragukan aspek keamanan di Jepang, kami akan mengubahnya," ungkap salah seorang pemuda Jepang.

Lanjutnya, "Mohon kunjungilah Jepang bahkan jika itu 10 atau 20 tahun ke depan." ***

Editor: Abdurrauf Said

Sumber: Perth Now YouTube Asian Boss

Tags

Terkini

Terpopuler